Pengembangan Produk Handicraft/Furnicraft Kreatif Batok Kelapa dalam Konteks Pengembangan Perancangan untuk Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Vernakular Desa Kabupaten Wonoharjo Pangandaran Propi

Lokasi: 
Penanggung Jawab: 
Dr. Imam Santosa., Msn.
Nomor Pegawai: 
196412171990031002
Email Penanggung Jawab: 
Tahun Pelaksanaan: 
2013
Sumber Pembiayaan: 
DIPA ITB
Informasi Tim Pelaksana: 
  • Dr. Imam Santosa., Msn. (Interior), KK IDBV FSRD ITB, imamz@fsrd.itb.ac.id
  • Yan Yan Sunarya, SSn., MSn. (Ragam Hias & Kriya), KK Kriya dan Tradisi FSRD ITB, coiqwuwuw@yahoo.com
  • Husen Hendriyana, SSn., MDs. (Kriya Seni & Desain), STSI Bandung, husen_hendri@yahoo.com
  • Chandra Tresnadi, SSn., MDs. (Ragam Hias & Kriya Digital), KK IDBV FSRD ITB, chandra@fsrd.itb.ac.id
  • Agus Zakaria, S.Sos. (Administrasi FSRD ITB), zak@fsrd.itb.ac.id.
  • Mitra Lokal: Tia Adi Cita (UKM mebel berbahan dasar kayu dan batok kelapa), Desa Wonoharjo, Kabupaten Pangandaran.
Latar Belakang Masalah yang ditangani: 

Jati diri bangsa sangat ditentukan oleh kualitas SDM yang ada. Untuk itu diperlukan kader terbaik bangsa yang memiliki kecerdasan tinggi, sikap dan mental prima, daya juang dan daya saing tinggi, serta kemampuan handal. Industri kreatif merupakan industri yang potensial untuk dikembangkan mengingat industri ini memiliki sumber daya yang sifatnya tidak terbatas, yaitu berbasis pada intelektualitas SDM yang dimiliki juga mekanisme produksi yang mendorong demand cukup tinggi terhadap kebutuhan unsur-unsur kreatif dalam dunia desain dan olahan visual tersebut.

Atas dasar ini maka disadari tentang situasi untuk merespon perkembangan di atas dalam konteks industri kreatif di Indonesia, yang mampu merespon dan mensuplai kebutuhan masyarakat serta perkembangan keilmuannya.

Dalam  hal  ini  produk  industri  kerajinan  merupakan  aspek  utama  dalam keberlangsungan suatu kegiatan, khususnya di industri kreatif bidang seni kerajinan. Aspek-aspek   tersebut   meliputi   pengetahuan   produk   kreatif   seperti   produksi (material/bahan baku dan teknik), distribusi dan pemasaran. Khususnya di dunia kerajinan berbahan baku batok kelapa (handicraft & furnicraft) seperti di Jogja dan Bali, masih terdapat ketidaksetabilan antara produktifitas, distribusi dan pemasarannya. Hal ini dikarenakan banyaknya permintaan pasar yang  tidak didukung oleh ketersediaan bahan baku yang seimbang.

Pangandaran sebagai penghasil batok kelapa terbesar di wilayah selatan Jawa Barat,  sangat  berpotensi  untuk  dikembangkan  menjadi  industri  penyedia  bahan setengah jadi untuk produk-produk kerajinan dimaksud di berbagai daerah kota besar di Indonesia, bahkan diarahkan untuk dapat menghasilkan desain-desain potensial. Wilayah Pakidulan Jawa Barat, khususnya Pangandaran merupakan wilayah penghasil kelapa   terbesar.   Masyarakat pengrajin   rumahan   berbahan   baku   batok   kelapa merupakan peluang besar sebagai mata pencaharian alternatif di samping sebagai petani sawah, petani gula kelapa, nelayan dan pedagang makanan (sea food). Alternatif yang sangat berpeluang adalah untuk bahan tas, kancing dengan berbagai ukuran, dan bentuk kerajinan lain. Mengingat banyaknya bahan baku tersebut, maka strategi dan sasarannya pada produk kerajinan jadi.

Kondisi Masyarakat sebelum Pelaksanaan: 

Kondisi khusus dan umum yang ditemukan di pengrajin rumahan handicraft dan furnicraft  di  Desa  Wonoharjo-Pangandaran,  Ciamis  Jawa  Barat  di  antaranya: (1) Minimnya pengetahuan dan pengalaman tentang kreatifitas dan inovasi desain, (2) Minimnya  pengetahuan  dan  keterampilan  manajemen  produksi  kaitannya  dengan karakter  bahan,  teknik  pengerjaan  dan  peralatan  yang  memadai, (3)  Minimnya pengetahuan tentang pasar (peluang dan persaingannya). (4) Rentannya produk kreatif bangsa berhadapan dengan arus produk global akibat berlangsungnya pasar bebas; (5) Strategi perekonomian kreatif yang dicanangkan oleh pemerintah tidak sertamerta diikuti oleh tindakan kreatif masyarakat dalam menghasil produk-produknya; (6) Belum ada tindakan kongkrit yang melibatkan masyarakat marjinal, berkolaborasi dengan kalangan  perguruan  tinggi,  pelaku  industri  dan  keberpihakan  konsumen  dalam memahami ekonomi kreatif secara regional maupun global; dan (7) Perlunya tindakan dan prototip yang kongkrit untuk menyelenggarakan proses kreatif di masyarakat sebagai tindak percontohan yang dilakukan secara berkesinambungan.

Lingkup Pelaksanaan : 

Lingkup pelaksanaan yaitu mewujudkan daerah binaan yang memiliki pekerjaan yang dapat dijadikan sebagai aset desa wisata industri kreatif untuk membangun jejaring ekonomi dari berbagai profesi anggota masyarakat di sekitarnya.

Pengembangan ilmu desain yang tepat bagi  industri  kecil  kerajinan sebagai upaya menghasilkan  metode  yang  tepat  untuk pengembangan industri kecil kerajinan, baik dari segi teknologi, desain, tatacara kerja, maupun pengembangan pasar yang kelak diterapkan dalam kondisi yang relatif sama di daerah lain.

Deskripsi dan Foto Kegiatan: 

Gambar 1. Contoh produk handicraft/furnicraft batok kelapa di Desa Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran.

Dua jenis produk di atas, memperhatikan perajin mebel TIA ADI CITA yang terletak di Desa Wonoharjo Kecamatan, Pangandaran kabupaten Pangandaran ini, dalam perspektif seni rupa dan desain. Produk-produk yang dikerjakan sangat minim akan kreasi desain baik secara bentuk, teknik, maupun sentuhan estetika, khususnya pada dekorasi dan finishing (lihat gambar produk). Namun demikian memperhatikan potensi sumber bahan baku kayu yang sangat banyak jenis dan volumenya, sangat menuntut pada percepatan produksi dan diversifikasi produk yang dihasilkan. Adapun potensi bahan baku lain, adalah Batok kelapa. Memperhatikan kedua potensi bahan baku tersebut memungkinkan untuk dikembangkan dan dipadukan menjadi produk yang kreatif. Memperhatikan   Pangandaran   sebagai   wilayah   pariwisata   dengan   Pantai   laut Pangandaran sebagai potensi yang sangat menarik terhadap wisatawan, maka salah satu produk yang dilatihkan adalah produk Kursi Pantai (kursi malas/kursi santai) dengan rancangan bahan kayu dan batok kelapa.

Alternatif Desain

Produk Handicraft/Furnicraft Kreatif Batok Kelapa

Alternatif pengembangan desain produk kreatif batok kelapa ditujukan untuk keperluan interior (furnicraft) berupa lampu dinding dan lampu gantung.

Proses perancangan produk didekati dengan mengambil struktur ½ bagian batok kelapa yang diukir/bor/laser sehingga memunculkan efek bolong. Visual yang diterapkan pada batok  kelapa  diambil  dari  salah  satu  elemen  batik  Jawa  Barat  berupa  isen-isen (isian/detil)  yang  berfungsi  sebagai  pembentuk  tekstur  pada  bidang  visual  guna menampilkan ciri dan identitas budaya Jawa Barat, yaitu: sulur kangkungan (tanaman air rambat).

Pemanfaatan material batok kelapa tidak menjadi yang paling utama, karena dengan tujuan inovasi dan keragaman diversifikasi produk maka beberapa desain didukung oleh material kayu dan plat stainless steel untuk mencapai desain yang baik.

Desain Lampu Dinding 1

Tampak Penampang

Tampak Film Negatif

Tampak Penampang

Tampak Penampang