Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Pusat Studi Agraria

Pusat Studi Agraria

Kepala Pusat : Dr. Andri Hernandi, ST., MT.

Email : andri@gd.itb.ac.id

 

Pusat Studi Agraria terbentuk berawal dari kerjasama antara Institut Teknologi Bandung dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang bertujuan untuk menghasilkan kajian kebijakan di bidang Pertanahan dengan melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan BPN di kampus ITB pada tahun 2013. Penandatangaan dilakukan oleh Rektor yang diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan dan Alumni ITB yaitu Hasanuddin Zaenal Abidin dengan Kepala Badan Pertanahan Nasional yaitu Joyo Winoto. Pusat Studi Agraria ini diharapkan bisa membantu mengatasi persoalan agraria yang dimensinya sangat luas. Dengan pusat studi, diharapkan dapat mengakumulasikan pengetahuan agraria, dan memastikan reformasi agraria dapat berjalan dengan baik.

 

Pusat Studi Agraria didirikan pada tahun 2013 melalui Surat Keputusan Rektor ITB nomor 002/SK/I1.A/OT/2013 memiliki visi untuk menjadi centre of excellence dalam pendidikan, penelitian, pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat ilmu dan teknologi kerekayasaan dan sosial yang terkait dengan bidang keagrariaan guna mendukung tercapainya pembangunan nasional yang berkelanjutan. Permasalahan keagrariaan telah menjadi permasalahan nasional. Agraria tidak hanya terkait dengan pertanian, namun meliputi pula pertanahan serta bentang alam yang mencakup keseluruhan kekayaan alam fisik maupun hayati dan kehidupan sosial yang terdapat didalamnya. Pemerintah saat ini telah pula memahami pentingnya keagrariaan dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Paket kebijakan ekonomi jilid III didominasi oleh aspek keagrariaan dalam rangka memperbaiki iklim usaha di Indonesia. Pusat Studi Agraria didirikan pada tahun 2013 dalam rangka percepatan penyelesaian permasalahan keagrariaan di Indonesia.

 

Selain menjadi centre of excellence dalam bidang keagrariaan di Indonesia, visi Pusat Studi Agraria terkait pula dengan kepemimpinan Indonesia dan khususnya Pusat Studi Agraria di dunia internasional. Permasalahan keagrariaan telah menjadi permasalahan nasional negara-negara lain di dunia. Bahkan, isu keagrariaan telah menjadi permasalahan regional dan internasional. Hal ini dibuktikan dengan adanya lembaga internasional yang salah satu fokusnya adalah menyelesaikan permasalahan keagrariaan, seperti United Nations Human Settlement Programme (UN-Habitat), International Federation of Surveyors (FIG), maupun Global Land Tool Network (GLTN) yang merupakan aliansi kemitraan global, regional, dan nasional. Melalui percepatan penyelesaian permasalahan keagrariaan di Indonesia, Indonesia umumnya dan Pusat Studi Agraria khususnya diharapkan dapat menjadi aktor utama di dunia internasional dalam penyelesaian permasalahan keagrariaan di negara-negara lain, maupun pada tingkat regional dan internasional.

 

Visi Pusat Studi Agraria sangat te rkait pula dengan visi Institut Teknologi Bandung. Dalam rangka pengejawantahan visi Institut Teknologi Bandung untuk menjadi perguruan tinggi yang unggul, bermartabat, mandiri, dan diakui dunia serta memandu perubahan yang mampu meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia dan misi Institut Teknologi Bandung untuk menciptakan, berbagi, dan menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan kemanusiaan serta menghasilkan sumber daya insani yang unggul untuk menjadikan Indonesia dan dunia lebih baik, Pusat Studi Agraria memiliki visi untuk menjadi centre of excellence pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat terkait ilmu dan teknologi kerekayasaan dan sosial bidang keagrariaan.

 

Selain turut serta dalam mendukung pelaksanaan pendidikan tingkat sarjana, magister, dan doktor dalam bidang Geodesi dan Geomatika umumnya dan khususnya Administrasi Pertanahan, Pusat Studi Agraria telah melaksanakan pelatihan-pelatihan dalam bidang keagrariaan bagi sektor swasta, komunitas, dan pemerintahan. Pusat Studi Agraria telah pula melaksanakan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat pada tingkat internal ITB, Kota Bandung, dan Asia Tenggara. Dengan terbangunnya portofolio Pusat Studi Agraria melalui kegiatan-kegiatan tersebut, diharapkan Pusat Studi Agraria dapat memenuhi visi tersebut di atas, baik pada tingkat internal ITB, Kota Bandung, Jawa Barat, nasional, dan regional.

 

Berdasarkan visinya serta visi dan misi ITB, Pusat Studi Agraria didirikan dengan misi sebagai berikut:

  • Membangun wahana pelaksanaan konsolidasi nasional antar instansi, baik instansi pendidikan, instansi pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat dan organisasi massa, dalam rangka pemecahan permasalahan keagrariaan di Indonesia sebagai prototipe Badan Koordinasi Keagrariaan Nasional;
  • Membangun konsep dan model pengimplementasian Reforma Agraria di Indonesia dalam rangka pencapaian tujuan pelaksanaan Reforma Agraria;
  • Membangun konsep dan model pengimplementasian sistem informasi geografis (SIG) tentang keagrariaan nasional Indonesia untuk mendukung pembangunan pusat informasi keagrariaan nasional dalam rangka pemecahan permasalahan keagrariaan nasional;
  • Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dibidang keagrariaan melalui kerjasama dengan BPN, instansi pendidikan lainnya, instansi pemerintahan lainnya serta LSM dan organisasi massa baik dari dalam maupun luar negeri melalui kegiatan dalam bidang pendidikan dan pelatihan;
  • Melaksanakan penelitian dan pengembangan ilmu dan teknologi kerekayasaan dan sosial keagrariaan melalui kerjasama dengan BPN, instansi pendidikan lainnya, instansi pemerintahan lainnya serta LSM dan organisasi massa baik dari dalam maupun luar negeri;
  • Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang keagrariaan.

Selain melalui kegiatan rutin tersebut di atas, Pusat Studi Agraria telah melaksanakan sosialisasi visi-misi dan program-program strategisnya kepada sektor akademis, swasta, komunitas, dan pemerintahan melalui kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

  • Pertemuan dengan anggota Pusat Studi Agraria;
  • Pertemuan dengan pemegang kepentingan bidang keagrariaan dari sektor akademis, swasta, komunitas, dan pemerintahan terkait dengan program-program strategis Pusat Studi Agraria;
  • Pelaksanaan seminar dan lokakarya bidang keagrariaan bekerja-sama dengan pemegang kepentingan bidang keagrariaan, seperti Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB dan Ikatan Surveyor Indonesia;
  • Publikasi ilmiah di jurnal dan prosiding internasional dan nasional serta populer di media massa nasional.

Program rutin yang telah dan akan dilaksanakan adalah pengembangan kapasitas kelembagaan Pusat Studi Agraria dalam rangka membangun Pusat Studi Agraria yang dapat menjadi wadah konsolidasi bagi perseorangan maupun lembaga yang mengelola isu keagrariaan pada tingkat internal ITB, lokal, nasional, regional, maupun internasional. Kegiatan utama dari program rutin Pusat Studi Agraria adalah seminar dan lokakarya nasional pertanahan, pengembangan kerja sama dengan lembaga keagrariaan pada tingkat lokal, nasional, regional, dan internasional; serta pembangunan kapasitas sumber daya manusia (SDM) keagrariaan. Seminar dan lokakarya nasional pertanahan telah dilaksanakan dan bekerja sama dengan Ikatan Surveyor Indonesia pada tahun 2014. Seminar dan lokakarya selanjutnya dilaksanakan pada tahun 2016. Kegiatan tahun 2017, pada umumnya bekerja sama dengan KK Surveying & Kadaster, FITB, ITB, BIG dan BPN.

 

Beberapa Kegiatan, Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat pada Pusat Studi Agraria, adalah sebagai berikut:

 

Kuliah Umum(2018):

  • Kuliah Umum I “Antisipasi Reforma Agraria dalam Kebijakan Kantor Pertanahan” oleh Kepala Kantor Pertanahan Bekasi Deni Santo, S.T, M.Sc;
  • Kuliah Umum II “Kajian Yuridis Reforma Agraria” Mengundang Prof. Dr. Ida. Nurlinda dari Universitas Padjadjaran.

Kegiatan (2018)

  • Penetapan Batas Wilayah Adat Kasepuhan Ciptagelar;
  • Konsolidasi Tanah pasca Bencana Gempa Bumi Lombok;
  • Pemetaan Partisipatif Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap Kel. Karangmulya Kec. Karang Pawitan Kab Garut.

Publikasi:

  • Analysis of the Ralation of Spatial Variation to Land Price Changes For Better Land Pricing Predictions;
  • The Land Conflict Typology of Lape Land Customary System in Nagekeo Recency, NTT;
  • Analisis Perbandingan Sistem Penguasaan Laut Adat Di Desa Haruku Maluku Dengan Sistem Penguasaan Laut Nasional;
  • Spatial Analysis about The Adjustment of NJOP Based on Assessment Ratio in Bandung(Study Case : Subdistrict Ujung Berung);
  • Urban Land Sector Assessment Using Simultaneous Equation Model as Single Value for Multipurpose;
  • The Evaluation of Marine Cadastre Definition Among Australia, Canada and United States of America Based on Indonesia’s Perspective as in Archipelagic State.
EnglishIndonesia